SOTARDUGANEWS, SUMUT – Minggu 18 Oktober 2026, Pemulihan infrastruktur jalan nasional di Sumatera Utara pasca bencana besar November 2025 terus dikebut. Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Utara memastikan program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tahun Anggaran 2026 berjalan sesuai target dengan prinsip Build Back Better.
Prinsip tersebut ditegaskan BBPJN Sumut Dari Darurat Hingga Bangkit, Bukan Sekadar Memperbaiki Tapi Membangun Lebih Tangguh. Filosofi ini menjadi dasar bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya mengembalikan fungsi jalan, melainkan membangun infrastruktur yang lebih tahan terhadap bencana di masa depan.
Dampak Bencana November 2025
Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada November 2025 lalu meninggalkan kerusakan masif pada konektivitas jalan nasional. Badan jalan amblas, tebing longsor, lereng tidak stabil, dan jembatan putus menyebabkan terisolasinya sejumlah kecamatan dan terganggunya distribusi logistik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah pusat karena jalan nasional merupakan urat nadi perekonomian, penghubung antar kabupaten, serta akses utama masyarakat menuju layanan kesehatan dan pendidikan.
Melalui akun resmi @pu_jalan_sumut, BBPJN Sumut menyampaikan komitmen untuk memulihkan seluruh ruas terdampak secara bertahap dan berkelanjutan.
Rehabilitasi 105 Lokasi Longsor Tahun 2026
Memasuki Tahun Anggaran 2026, BBPJN Sumut melaksanakan paket besar bertajuk Pekerjaan Konstruksi Penanganan Jalan dan Jembatan Nasional Pascabencana di Sumut TA 2026.
Lingkup pekerjaan utama meliputi tiga komponen besar:
Pertama, penanganan 105 lokasi longsoran yang tersebar di ruas-ruas jalan nasional rawan bencana. Kedua, rekonstruksi badan jalan yang mengalami kerusakan berat. Ketiga, penggantian dan pembongkaran jembatan yang tidak layak secara struktur.
Data dari BBPJN Sumut mencatat, 105 titik longsor tersebut ditangani dengan berbagai metode perlindungan lereng modern. Bukan hanya dibersihkan material longsornya, tetapi lereng diperkuat secara permanen.
Metode Penanganan: Dari Bronjong Hingga Dinding Penahan Tanah
Untuk memastikan jalan nasional lebih tangguh, BBPJN menerapkan penanganan komprehensif. Pemulihan berlanjut, penanganan diperkuat menjadi arahan teknis di lapangan.
Jenis pekerjaan yang dilakukan meliputi:
Rekonstruksi badan jalan yang amblas dan retak.
Perlindungan lereng dengan sistem shotcrete dan soil nailing.
Pemasangan bronjong untuk menahan gerusan air.
Pembangunan dinding penahan tanah (retaining wall) bertingkat di titik rawan.
Penanganan drainase dan struktur pendukung untuk mengalirkan air agar tidak merusak konstruksi jalan.
Dokumentasi udara yang dirilis BBPJN menunjukkan lereng-lereng curam yang sudah diperkuat dengan lapisan beton semprot dan dipasangi angkur, jauh lebih stabil dibandingkan kondisi pasca longsor.
Fokus Penanganan Tiga Jembatan Vital
Selain jalan, BBPJN Sumut juga fokus pada penanganan jembatan. Tiga jembatan vital menjadi prioritas:
1. Pembongkaran Jembatan Aek Puli
2. Pembongkaran Jembatan Aek Siais
3. Penggantian Jembatan Garoga 2
Proses pembongkaran dilakukan karena struktur lama mengalami kerusakan berat akibat banjir dan tidak lagi memenuhi standar keamanan. Sementara Jembatan Garoga 2 diganti dengan struktur baru yang lebih tinggi dan lebih tahan banjir.
Di lapangan, terlihat alat berat ekskavator bekerja di badan sungai, pemasangan jembatan Bailey sebagai jembatan darurat untuk menjaga akses masyarakat tetap terbuka, serta pekerjaan pemancangan pondasi dalam untuk jembatan permanen.
Tantangan Medan dan Cuaca Ekstrem
BBPJN Sumut mengakui pelaksanaan pekerjaan tidak mudah. Sebagian besar lokasi berada di kawasan perbukitan, akses terbatas, material sulit masuk, dan cuaca yang masih ekstrem.
“Pelaksanaan pekerjaan membutuhkan perhatian terhadap kondisi medan, cuaca, serta akses menuju lokasi, terutama pada ruas jalan yang berada di kawasan perbukitan dan rawan longsor. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan aspek teknis, mutu pekerjaan, dan keselamatan pengguna jalan maupun pekerja di lapangan,” tulis BBPJN Sumut dalam keterangan resminya.
Meski demikian, progres terus berjalan. Alat berat jenis vibro roller, ekskavator, dan dump truck terus beroperasi melakukan pemadatan dan pengaspalan ulang.
Lebih Dari Sekadar Jalan
Bagi Kemen PU, pemulihan ini memiliki makna lebih luas.
“Karena pemulihan pascabencana bukan sekadar memperbaiki jalan yang rusak, melainkan memastikan kembali terbukanya akses, bergeraknya perekonomian, dan pulihnya aktivitas masyarakat,” tegas BBPJN Sumut.
Perjalanan pemulihan jalan nasional di Sumatera Utara adalah upaya berkelanjutan untuk menghubungkan kembali wilayah, mendukung distribusi logistik, dan memulihkan aktivitas masyarakat.
Dengan target penyelesaian bertahap di tahun 2026, diharapkan konektivitas di Sumatera Utara kembali normal dan infrastruktur yang dibangun memiliki daya tahan lebih tinggi menghadapi potensi bencana ke depan, sesuai dengan semangat Build Back Better yang diusung Kemen PU: Sigap Membangun Negeri Untuk Rakyat.
(BBPJN SUMUT/RED)





